Kamis, 10 Maret 2011

[Sinopsis] Dream High Episode 2


“Kumohon… Tolong selamatkan aku.” pinta Hye Mi seraya berlutut dihadapan Ha Myung.
Semua orang yang menonton menertawakan Hye Mi. Jin Kuk hanya diam.
“Aku harus diterima disini.” ujar Hye Mi.
“Kenapa?” tanya Ha Myung. “Melihat catatanmu, kau tidak akan punya masalah untuk masuk ke semua SMA.”
“Aku harus diterima disini.” ujar Hye Mi memohon. “Apa yang harus kulakukan? Jika kau tidak menyukai penampilanku, aku akan mengubahnya. Jika aku kurang sesuatu, aku akan bekerja lebih keras. Kumohon, tolong terima aku. Aku akan melakukan apapun.”
“Jangan memohon.” kata Ha Myung. “Itu lebih buruk dibandingkan sikap orang golongan tiga.”
Baek Hee tersenyum melecehkan.
“Aku tidak berlutut padamu!” kata Hye Mi angkuh seraya bangkit. “Aku hanya… hanya… hanya… hanya ingin melihat lubang hidungmu!”
Semua orang tertawa terbahak-bahak.

“Suatu saat nanti aku akan membuktikan padamu bahwa keputusanmu salah.” kata Hye Mi menantang.
“Tidak, aku yang akan membuktikan padamu…” ujar Baek Hee, balik menantang. “Bahwa keputusannya benar.”
Hye Mi menatap Ha Myung tajam.
“Kau menggelikan.” ujar Hye Mi pada Baek Hee, kemudian berjalan pergi.
Begitu Hye Mi keluar, Baek Hee langsung pingsan.
Bum Soo mengambil formulir aplikasi Hye Mi, hendak memusnahkannya.
“Tolong berikan itu padaku.” ujar Ha Myung.
Hye Mi keluar. Disana, ia melihat para anah buah Du Shik berjaga diluar. Tidak lama kemudian, Hye Sung mengirimkan sms.
“Aku diusir dari rumah.” kata Hye Sung dalam pesannya.
Di dalam ruang audisi, Baek Hee berusaha mengumpulkan kekuatannya.
“Aku terpilih karena memiliki kemampuan, bukan?” tanya Baek Hee ragu.
Ha Myung terdiam dan menatap bandulnya. “Kemarilah.” katanya.
Ha Myung menyerahkan bandul itu pada Baek Hee.
“Apa ini?” tanya Baek Hee.
“Kau tidak tahu tentang jimat dan lambang kualitas?” tanya Ha Myung. “Kau berusaha mengerti dengan cara yang baik.”
“Jadi, aku… bukan termasuk dalam orang dengan karakter buruk.” ujar Baek Hee dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih. Aku akan benar-benar serius dalam belajar. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih.”
Baek Hee terus berterima kasih dan berjalan keluar ruangan sambil terus memegangi jimat Ha Myung.
Saat In Sung dipanggil, ia sedang buang air besar di WC.
“Cepat keluar!” kata Jin Kuk.
“Tidak bisa.” jawab In Sung. “Ini terus-menerus keluar.”
“Kau sangat memalukan.”
“Beri aku waktu 3.. tidak, 5 menit.” kata In Sung. “Aku akan keluar begitu selesai disini.”
Untuk mengulur waktu, Jin Kuk sengaja mencari keributan. Ia mengganggu peserta lain dengan menyodor-nyodorkan pel, kemudian menyemprotkan alat pemadam kebakaran.
Tanpa sengaja, Jin Kuk dikerjar-kejar sampai ke tempat audisi.
“Hey kau!” panggil Ha Myung. “Kalau ingin mengulur waktu, kenapa tidak menari saja?”
“Siapa kau?” tanya Jin Kuk.
“Menarilah.” perintah Ha Myung.
“Aku tanya, siapa kau?!” bentak Jin Kuk. Kelihatannya ia sangat tidak suka jika disuruh melakukan dance.
Ha Myung diam saja. Jin Kuk diseret keluar.
Jin Kuk berjalan pergi. Di suatu tempat, ia melihat seorang peserta, Jason, sedang menari. Ia melihat sejenak dengan ekspresi sedih, kemudian beranjak.
“Bisakah kau mengantarkanku pulang?” tanya Hye Mi ketika melihat Jin Kuk bersiap pergi dengan motornya. Saat itu Jin Kuk mengenakan helm, jadi Hye Mi tidak bisa melihatnya. “Asal aku bisa pergi dari sini, itu sudah bagus. Kumohon padamu.”
Jin Kuk menoleh. “Aku tidak bisa mendengarmu. Apa yang baru saja kau katakan?”
Hye Mi terlihat kesal mengetahui pria itu adalah Jin Kuk. “Aku tidak bilang apa-apa.”
“Kenapa kau tidak membiarkan aku menolongmu?” tanya Jin Kuk.
“Aku tidak bilang apa-apa.” kata Hye Mi penuh harga diri.
Jin Kuk mengendarai motornya. Ia melewati Du Shik yang sedang menunggu Hye Mi.
Jin Kuk masih ingat pada Du Shik.
Jin Kuk kembali menemui Hye Mi, kemudian menawarkan helm. “Ayo.” katanya.
Hye Mi memukul helm Jin Kuk. “Tidak.”
“Aku tidak akan mengajak dua kali.” ujar Jin Kuk.
Pada akhirnya Hye Mi menelan harga dirinya dan naik ke motor Jin Kuk. Jin Kuk tersenyum.
Hye Mi meraih syal Jin Kuk untuk berpegangan.
“Pegang pinggangku.” perintah Jin Kuk.
Mulanya Hye Mi menolak, tapi akhirnya memeluk pinggang Jin Kuk juga. Hehehe….
“Peserta No. 1298, Kim Pil Sook.” panggil juri.
Peserta tersebut masuk. Ia mengenakan kostum sushi.
“Apa kau ingin mengikuti audisi dengan kostum seperti ini?” tanya Bum Soo. “Apa kau tidak percaya diri? Fotomu juga kelihatan buram.
“Ya, sedikit.” jawab Pil Sook.
“Konstummu terlihat tidak pantas.” kata Shi Kyung Jin. “Lepaskan atau keluar saja.”
“Silahkan mulai bernyanyi.” kata Ha Myung pengertian.
Si sushi mulai menyanyi. Suaranya sangat merdu. Tapi Pil Sook punya masalah dengan rasa percaya dirinya.
Hye Mi memeluk pinggang Jin Kuk erat. Diam-diam, Hye Mi berusaha menahan tangisnya.
Jin Kuk mengajak Hye Mi ke pinggir danau.
Hye Mi berjalan menjauhi Jin Kuk.
“Hei!” panggil Jin Kuk, meraih lengan Hye Mi.
“Lepaskan aku.”
“Paling tidak kembalikan helmku sebelum kau pergi!” kata Jin Kuk.
“Lepaskan aku.” kata Hye Mi.
Jin Kuk melepas helm Hye Mi, dan terlihat Hye Mi menangis.
“Sangat memalukan.” gumam Hye Mi seraya berjalan menjauh perlahan.
Jin Kuk meraih tangan Hye Mi, kemudian memasangkan helm itu lagi di kepalanya dan pergi.
Si sushi alias Pil Sook selesai bernyanyi. Para juri terpana oleh suaranya yang merdu.
“Kau sudah selesai bernyanyi, silahkan buka kostummu.” ujar Kyung Jin.
“Aku memenuhi kualifikasi atau tidak?” tanya Pil Sook. “Tolong beritahu aku dulu sebelum kubuka kostumku.”
“Cepat buka kostummu!” bentak Kyung Jin emosi.
“Maafkan aku.” ujar Pil Sook. Akhirnya ia bersedia membuka kostumnya. Suara Pil Sook memang sangat merdu, tapi penampilannya tidak menjanjikan.
Ha Myung tersenyum.
“Kau sepertinya sangat mengagumi dia.” kata Bum Soo, melihat binar di mata Ha Myung.
“Ya.” jawab Ha Myung. “Kelihatannya kau tidak puas dengan penampilannya.”
“Mengeliminasi dia merupakan hal yang sangat disayangkan, tapi penampilannya sangat tidak menarik.” jawab Bum Soo.
“Lalu apa yang akan kita lakukan?” tanya Ha Myung. “Aku akan mengikuti keputusanmu.”
Bum Soo menunduk. Ha Myung tersenyum.
Mereka memutuskan untuk meloloskan Pil Sook.
Pil Sook keluar dari ruangan dengan gontai karena sangat terkejut dan senang.
“Aku berhasil, Oppa.” katanya seraya mencium foto Kim Hyun Joong.
Dan inilah para siswa yang lolos. (Dari kiri ke kanan) Kim Pil Sook, Jo In Sung, Yoon Baek Hee dan Jason.
Nasib Kang Oh Hyuk di Sekolah Seni Kirin sudah diujung tanduk. Ia akan segera di pecat.
Dari 100 orang siswa yang rencananya akan diterima oleh Sekolah Seni Kirin, mereka baru mendapatkan 97 siswa.
“Aku sudah memikirkan 3 nama lagi.” ujar Ha Myung. “Aku sudah menentukan 1 orang dan kini 2 nama sisanya muncul.”
“Siapa mereka?” tanya Bum Soo.
“Namanya Song Sam Dong.” jawab Ha Myung yakin. “Ia teman lamaku.”
Bum Soo tertawa kecil. “Song Sam Dong. Aku menjadi sangat ingin bertemu dengannya walau hanya mendengar namanya disebut.
“Sam Dong!” panggil seorang wanita. Ia adalah ibu Sam Dong.
Sam Dong, yang saat itu sedang menjahit buru-buru menyembunyikan jahitannya dan mematikan suara musiknya.
“Kudengar di desa akan diadakan kontes menyanyi, apa kau mau ikut?” tanya Ibu.
“Tentu saja tidak.” jawab Sam Dong. “Kau tahu aku tidak suka menyanyi.”
Ekspresi Ibu Sam Dong ragu mendengar jawaban Sam Dong, seperti tidak percaya.
“Aku yakin semuanya akan setuju dengan penerimaan khusus.” ujar Bum Soo. “Kita juga harus menemukan guru yang memang punya keinginan untuk mengajar.”
“Ini dia, guru yang punya keinginan untuk mengajar.” ujar Ha Myung, mempersilahkan seseorang masuk ke ruangan itu.
Oh Hyuk masuk.
Bum Soo hendak protes, namun Ha Myung tidak menggubrisnya.
Sampai malam, Du Shik masih saja berdiri di depan Kirin.
“Apa audisinya sudah selesai?” tanyanya pada anak buahnya.
“Ya, Direktur.”
“Apa mungkin Go Hye Mi melarikan diri karena tidak lolos?” tanya Du Shik lagi.
“Ya.” jawab anak buah Du Shik. Ia bercerita bahwa sebelumnya pernah melihat dua orang pergi dengan motor. Mungkin itu adalah Hye Mi.
Du Shik langsung memukuli kepala anak buahnya itu karena terlalu bodoh.
“4885!” seru anak buah Du Shik. “Itu nomor motornya!”
Hye Mi menuju rumahnya. Disana, ia menemukan adiknya sedang duduk diantara barang-barangnya yang sudah dibuang bagai rongsokan di pinggir jalan.
“Apa kau diterima?” tanya Hye Sung.
“Aku ditolak.” jawab Hye Mi. “Sekolah sampah itu menolakku!”
“Bukankah kau ikut audisi bersama Baek Hee?”
“Jangan sebut nama si bodoh itu!” seru Hye Mi kesal.
Di rumah, Baek Hee mencopot semua foto dan membuang semua barang-barangnya yang berhubungan dengan Hye Mi. Ia juga memotong rambutnya.
Hye Mi dan Hye Sung lontang-lantung di jalan. Hye Sung mengenakan helm Jin Kuk.
“Kemana kita akan pergi?” keluh Hye Sung setelah lama berjalan. “Apa kita akan pergi ke rumah Tuan Kang?”
“Apa kau gila? Kenapa kita harus mencari dia?” tanya Hye Mi emosi.
“Lalu kemana kita akan pergi? Kita tidak punya tempat tinggal.” kata Hye Sung. “Kita juga tidak punya uang.”
Hye Mi diam sejenak. “Ikuti saja aku.” katanya seraya menggandeng tangan adiknya itu.
Hye Mi mengajak Hye Sung ke tempat In Sung berlatih menari.
“Tempat apa ini?” tanya Hye Sung.
“Sssttt…” bisik Hye Mi menyuruh adiknya agar tidak berisik. “Disini adalah tempat para pencuri bersembunyi. Dibandingkan dengan di luar, disini lebih baik.”
Hye Mi berjalan dan masuk ke dalam mobil yang ada di tempat itu.
Mulanya Hye Sung protes dan mengajak Hye Mi ke tempat Tuan Kang, tapi Hye Mi menolak metah-mentah.
“Kenapa kau sangat membenci Tuan Kang?” gumam Hye Sung.
Di tempat lain, Jin Kuk terdiam. Ia teringat ketika melihat Jason menari. Entah karena insting atau keinginan dan kerinduan yang sangat kuat, Jin Kuk menjatuhkan tasnya dan mulai menari.
Jin Kuk mengendarai motornya ke tempat In Sung dkk berlatih menari. Ia memarkir motornya di luar kemudian masuk ke dalam.
Jin Kuk terkejut ketika melihat helmnya yang dipinjamkan pada Hye Mi berada disana. Ia lebih terkejut ketika melihat Hye Mi dan adiknya tertidur di dalam mobil. Tidak jauh dari tempat Hye Mi tidur, Jin Kuk melihat 5 botol kosong yoghurt .
Jin Kuk menjadi teringat akan masa kecilnya.
“Ini uangku! Kembalikan!” seru seorang anak laki-laki berebut 5 botol yoghurt dengan seorang anak perempuan.
“Aku juga membayar 500 won! Kembalikan!” seru si anak perempuan membalas.
Tidak ada satu pun dari mereka yang mau mengalah hingga akhirnya si anak perempuan menangis.
Karena tidak tega, si anak laki-laki terpaksa memberikan yoghurt itu pada si anak perempuan.
“Jin Kuk!” panggil seorang wanita.
Anak laki-laki (yang rupanya adalah Jin Kuk) bergegas bersembunyi. Si anak perempuan mengikuti.
“Apa yang kau lakukan?” tanya anak perempuan.
“Itu ibuku.” jawab Jin Kuk. “Jika aku ditemukan, aku akan dikirim ke rumah yatim piatu.”
Mendengar itu, si anak perempuan menangis lagi. “Apa yang akan kau lakukan?” tangisnya.
“Ingusmu keluar.” kata Jin Kuk.
“Ini bukan ingus. Ini air mata.”
Jin Kuk tersenyum. “Siapa namamu?” tanyanya.
“Go Hye Mi.” jawab anak perempuan itu.
Jin Kuk tersenyum tipis. “Kau… orang seperti apa kau sebenarnya?” gumam Jin Kuk.
Anak buah Du Shik menyebar selebaran untuk mempromosikan perusahaan kreditnya. Tanpa sengaja ia melihat plat nomor motor Jin Kuk. 4885.
Saat itu, Jin Kuk sedang pergi ke supermarket sementara Hye Mi dan Hye Sung akan beranjak pergi.
“Aku menemukanmu.” ujar Du Shik ketika melihat Hye Mi keluar.
Anak buah Du Shik langsung menculik Hye Mi.
“Kakak!” teriak Hye Sung, melihat kakaknya diseret paksa. “Kakak!”
Tapi mobil Du Shik melaju pergi.
Dengan cerdik, Hye Sung menghapal plat nomor mobil Du Shik.
Dalam perjalanan pulang dari supermarket, tanpa sengaja Jin Kuk melihat Hye Mi meronta-ronta melepaskan diri di dalam mobil Du Shik. Jin Kuk hendak mengejar, tapi mobil itu sudah lenyap.
“Lepaskan aku!” teriak Hye Mi.
“Tenang.” perintah Du Shik. “Aku juga akan membawa adikmu bersamamu.”
Mendengar itu, Hye Mi langsung diam.
Du Shik membawa Hye Mi ke klab malam dan menyuruhnya menyanyi, tapi Hye Mi diam saja.
“Sampai aku mati, aku tidak akan menyanyi.” kata Hye Mi.
Du Shik memanggil putranya agar datang.
Seorang pria gemuk kemudian datang dan mendekati Hye Mi. Hye Mi ketakutan. Ia melepas sepatunya kemudian memukul kepala anak Du Shik dengan hak sepatu.
Hye Mi melompat dari panggung dan lari. Namun akhirnya tertangkap juga. Usahanya sia-sia.
“Aku akan memanggil polisi!” ancam Hye Mi.
“Silahkan saja.” tantang Du Shik. “Tapi ingat, adik dan ayahmu ada ditanganku. Siapa suruh kau tidak lolos audisi? Jika kau lolos, keadaannya tidak akan seperti ini.”
Mendadak pintu klab terbuka dan Oh Hyuk masuk ke dalam.
“Lepaskan dia!” ujar Oh Hyuk. “Dia adalah siswa Sekolah Seni Kirin! Aku adalah guru Sekolah Seni Kirin, Kang Oh Hyuk.” Oh Hyuk menunjukkan identitasnya.
Tidak lama kemudian, Hye Sung datang dengan terbatuk-batuk.
Du Shik mengatakan bahwa Direktur Ha Myung telah menerima Hye Mi.
“Aku sudah mencari di internet.” kata Du Shik, berbincang dengan Hye Mi dan Oh Hyuk. “Semua muridmu berakhir mengenaskan dan gagal, jika Hye Mi ikut denganmu, aku takut ia akan mengalami nasib serupa.”
“Kupastikan Hye Mi tidak akan mengalami nasib seperti itu.” kata Oh Hyuk terbata-bata, mencoba berani.
Akhirnya Du Shik melepaskan Hye Mi.
“Aku dengar dari adikmu bahwa kau tidak punya tempat lagi untuk tinggal.” kata Oh Hyuk. “Naiklah ke dalam mobil dan tinggallah di rumahku.”
“Aku menjadi seperti ini karena uang.” kata Hye Mi. “Aku berniat masuk ke sekolah itu, semua karena uang. Tidak ada alasan lain. Kuharap kau benar-benar sudah siap.”
Oh Hyuk mengendarai mobilnya pergi. Pada saat yang bersamaan, Jin Kuk tiba di tempat itu untuk menyelamatkan Hye Mi.
Sesampainya di rumah Oh Hyuk, kakak Oh Hyuk langsung marah-marah dan histeris. Untuk hidup sendiri saja susah, apalagi menghidupi Hye Mi dan Hye Sung juga.
“Aku harus menjaga Hye Mi!” kata Oh Hyuk, menjelaskan pada kakaknya di dalam kamar. “Jika tidak, aku akan menjadi pengangguran! Aku dipecat dari Kirin, tapi Direktur memberiku kesempatan karena Hye Mi. Jika aku bisa membawa Hye Mi, maka aku tidak akan dipecat!”
Tanpa mereka sadari, Hye Mi mendengar pembicaraan mereka dari luar kamar.
Perjanjian antara Oh Hyuk dengan Ha Myung adalah untuk membawa Hye Mi dan dua orang murid lagi ke Sekolah Kirin sebelum tahun ajaran baru dimulai. Jika tidak, maka Oh Hyuk akan dipecat.
Hye Mi mencari berkas milik Oh Hyuk mengenai siswa tersebut. “Song Sam Dong.” gumam Hye Mi, membaca nama di berkas tersebut. Orang yang kedua adalah Hyun Shi Hyeok alias Jin Kuk.
Jin Kuk mengendap-endap masuk ke dalam bangunan milik Du Shik, namun sayang ia dilihat oleh anak buah Du Shik dan terkepung. Du Shik melompat kemudian mendorong anak buah Du Shik hingga terjatuh.
“Go Hye Mi, dimana kau?” panggil Du Shik.
Du Shik datang dengan membawa banyak anak buah. Jin Kuk terpojok.
“Aku melihatmu menculik Hye Mi.” ancam Jin Kuk. “Lepaskan dia atau kutelepon polisi.”
“Jadi kau kemari untuk menyelamatkan Hye Mi.” kata Du Shik tertawa. Ia mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Hye Mi. “Hye Mi, kau sudah di rumah?”
“Ada yang ingin kau katakan lagi?” terdengar suara Hye Mi.
Du Shik menutup telepon, lalu memerintahkan anak buahnya menghabisi Jin Kuk.
Perkelahian berat sebelah terjadi. Jin Kuk terjatuh kesakitan setelah dipukul.
Di Kirin, para murid yang lolos saling berkenalan.
Mereka datang ke ruangan Shi Kyung Jin. Ketika murid-murid sampai disana, Kyung Jin menyebar 1000 paku payung ke lantai.
“Lima menit dari sekarang, latihan menari akan dimulai.” Kyung Jin tersenyum. “Dengan kaki telanjang.”
Murid-murid melongo.
“Jika dalam waktu lima menit kalian tidak bisa mengumpulkan keseribu paku payung, aku takut kaki kalian tidak akan bertahan. Akan dimulai dari… sekarang!”
Anak-anak melepas sepatu mereka dan mulai mengumpulkan paku payung secepat mungkin.
Akhirnya mereka berhasil mengumpulkan semua paku payung.
“Bagus.” kata Kyung Jin. “Kelasku akan lebih berat dari itu.”
Bum Soo sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk tahun ajaran baru.
Seorang wanita hamil membawakan satu berkas dan menyerahkannya pada Bum Soo.
“Direktur sudah memilih orang untuk menggantikanku.” kata wanita itu. “Seseorang dengan latar belakang berbahasa inggris.”
Bum Soo melihat berkas tersebut. “Dari tampangnya, aku merasakan firasat buruk.” gumamnya.
Diatas ini adalah gambar guru baru tersebut. Ia bernama Yang Jin Man, seorang pemain musik. Seorang pria yang temperamental, apalagi jika menyangkut kekasihnya Su In.
Ia berumur 36 tahun dan punya pengalaman mengajar selama 1 tahun. Berusaha menjual keyboardnya demi menikahi Su In.
Bum Soo beranggapan bahwa Ha Myung selalu memilih guru yang salah dan tidak memiliki kualifikasi sama sekali untuk mengajar di Kirin. Ia tidak bisa tinggal diam. Ia harus menarik satu per satu guru agar berdiri di pihaknya.
Malam itu, Hye Mi tidak bisa tidur. Ia memutuskan untuk pergi mencari Sam Dong.
Ketika sedang berjalan di Dambong, sebuah desa kecil tempat Sam Dong tinggal, ia melihat arak-arakan ramai. Hye Mi tersenyum. “Kurasa aku menemukannya.”
Hari itu akan diadakan kompetisi menyanyi. Sam Dong termasuk salah satu pesertanya.
“Sam Dong!” panggil seseorang. “Katamu ibumu tidak datang menonton!”
“Memang tidak.” jawab Sam Dong.
“Tapi aku melihatnya ada di bangku menonton bersama ibuku.” kata teman Sam Dong cemas.
“Apa katamu?!”
Sam Dong menjadi panik. Ia berjalan keluar dengan terburu-buru.
Tanpa sengaja Sam Dong bertabrakan dengan Hye Mi. Ponsel Hye Mi terjatuh dan hancur.
“Maafkan aku.” ujar Sam Dong menyesal, memungut ponsel Hye Mi.
“Tidak apa-apa.” jawab Hye Mi seraya bangkit dan berjalan pergi.
Sam Dong melongo dan kelihatan terpesona melihat Hye Mi. Ia terus-menerus memandang Hye Mi tanpa berkedip.
Di sisi lain, Oh Hyuk berusaha mencari Jin Kuk. Ia bertanya pada In Sung dimana Jin Kuk tinggal, kemudian bergegas pergi.
Oh Hyuk mencari Jin Kuk di tempat In Sung berlatih menari.
Disana, Oh Hyuk menemukan Jin Kuk terkapar penuh darah.
Ha Myung datang langsung ke rumah Yang Jin Man untuk mengajaknya bergabung menjadi guru Bahasa Inggris di Kirin.
“Kau salah orang.” kata Jin Man, mulai buka mulut untuk menolak permintaan Ha Myung.
Ha Myung berkeliling melihat kamar Jin Man, kemudian meraih satu disc hitam kuno. Jin Man mulai menyambut hangat Ha Myung karena Ha Myung tahu mengenai disc tersebut.
“Banyak orang yang tidak mengetahui album ini.” kata Jin Man antusias.
Ha Myung menyerahkan kartu namanya pada Jin Man. Direktur Sekolah Seni Kirin.
Jin Man terdiam. “Tidak mungkin.” gumamnya. “Direktur?”
Hye Mi duduk di bangku penonton, menunggu kedatangan orang yang bernama Sam Dong itu.
Setelah beberapa peserta tampil, akhirnya Sam Dong muncul.
“Namaku Song Sam Dong.” kata Sam Dong memperkenalkan diri dihadapan penonton.
Hye Mi terkejut. “Dia Song Sam Dong?” gumamnya.
MC menanyakan apa alasan Sam Dong mengikuti kontes itu.
Sam Dong bingung menjawabnya. Ia melihat ibunya, kemudian terbesit jawaban itu. “Aku ingin ibuku tidur nyenyak. Ia takut aku menjadi perjaka tua.”
“Jadi intinya, kau ingin mengumumkan pernikahanmu.” kata MC.
Sam Dong tertawa. Para penonton ikut tertawa.
Tanpa sengaja Sam Dong melihat Hye Mi. Lagi-lagi ia melongo karena terpesona.
“Disini banyak sekali wanita cantik.” kata MC. “Bawalah satu yang kau suka dan gandeng tangannya ke atas panggung.”
“Sekarang juga?” tanya Sam Dong.
Seluruh penonton bersorak dan bertepuk tangan.
Sam Dong menatap Hye Mi lagi. Hye Mi bingung.
Sam Dong ragu sejenak, kemudian memberanikan diri untuk maju mendekati Hye Mi.
“Bukankah ini sangat menarik? Tidak sengaja menabrak seseorang kelihatan seperti aliran listrik. Sangat tidak disangka.”
“Aku minta maaf karena ini adalah pertemuan pertama kita.” ujar Sam Dong. “Ikutlah bersamaku.” Ia menggandeng tangan Hye Mi dan menariknya ke panggung.
Hye Mi kebingungan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar